Beranda » Pendidikan » Tentang Ibu

Tentang Ibu

Beberapa hari lalu, saat membaca sebuah tulisan saya didera perasaan rindu pada sosok ibu yang telah lima tahun meninggalkan dunia fana ini. Ibu yang melahirkan saya, yang doa-doanya selalu menyertai di setiap langkah sampai usia 40 tahun lewat.
Kerinduan itu muncul tatkala membaca sebuah puisi berjudul “Ummi”. Kata-katanya sederhana, menceritakan kisah hidupnya bersama ibundanya tercinta. Tak terasa keharuan dan kerinduan itu terekspresikan dalam derai air mata. Puisi itu, mengingatkan saya saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah dasar, beliau mengantar hanya sebatas gerbang sekolah dan menatap saya berlari bersama teman-teman di sekolah baru. Meskipun hari itu hari pertama bagi saya untuk sekolah, namun tak begitu istimewa untuk pergi ke sekolah karena selama itu saya sering bermain di sekolah itu. Saya sering diantarkan ibunda untuk sekedar ikut bermain dengan anak-anak sekolah jika mereka sedang beristirahat. Ibunda seolah menitipkan kepada anak-anak sekolah itu. Bukan tidak ada alasan mengapa ibunda selalu menitipkan saya kepada anak-anak sekolah karena ayahanda merupakan guru di sekolah itu. Meskipun tanpa ada kata yang tersurat kepada anak-anak sekolah dari ibunda menitipkan saya, anak-anak sekolah kelas tertentu sudah sangat maklum dan mereka selalu menyambut saya dengan riang. Bahkan sering saya diajak masuk kelas dan ikut belajar. Mereka sering mengajari saya membaca atau menulis. Tentu saja, saat itu saya merasa senang karena selalu dikelilingi oleh kakak-kakak itu. Mungkin pada masa sekarang, hal itu agak mustahil terjadi, apalagi di kota-kota besar.
Jika mengenang masa-masa itu, saya selalu ingat pada seorang kakak kelas yang selalu mengasuh saya jika ikut ayahanda sekolah. Dia bernama Eceh Rohaetin. Entah di mana dia sekarang, pernah ada kabar bahwa beliau menjadi seorang guru SD di Kabupaten Indramayu.

Saya masih ingat, jika ikut masuk kelas selalu duduk di barisan depan, dengan diapit oleh dua orang. Tanpa memahami apa yang dikatakan ayahanda sebagai gurunya, saya selalu menyimak apa yang disampaikan ayahanda kepada murid-muridnya. Bahasa pengantarnya bahasa Sunda, ayahanda sering mendongeng kepada murid-muridnya, entah pelajaran apa yang disampaikan ayahanda. Saya selalu larut saat mendengakran cerita ayahanda, demikian juga kakak-kakak di kelas tersebut. Sering beberapa murid minta untuk diceritakan sebuah dongeng lagi oleh ayahanda, tetapi entah kenapa ayahanda selalu hanya mendongenng satu kali saja setiap hari. Karena penasaran, di rumah dsys sering minta didongengkan oleh ayahanda. Beliau mendongeng sambil membaca buku berjudul Taman Pamekar. Yang sering diceritakan adalah tokoh Ima, Aman, dan Udi. Seiring dengan usia, tatkala saya sudah bisa membaca maka buku Taman Pamekar yang ada di lemari ayahanda selalu saya baca berulang-ulang. Tidak jarang ayahanda atau ibunda menyuruh saya untuk melihat langit, mungkin saking bosannya melihat saya dari pagi sampai siang, bahkan kadang sampai sore tetap duduk di depan lemari buku yang berantakan.
Saking seringnya mebnaca cerita Ima, Aman, dan Ade yang terdapat dalam buku Taman Pamekar itu, jadi terbayang sebuah tempat yang ada di Bandung bernama Cicalengka, Ima , seorang tokoh dalam buku tersebut bersekolah ke Bandung naik kereta api. Saya yang tinggal di kabupaten Sumedang tidak tahu bagaimana wujud kereta api, dan tidak tahu cara naik kereta api karena di Sumedang tidak ada kereta api. Saya sering membayangkan bagaimana rasanya naik kereta api. Kereta api hanya dapat dilihat dari gambar ilustrasi dalam buku tersebut.

Kembali kepada ibunda. Ibunda seorang ibu yang penuh dedikasi. Menurut beliau, meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, beliau termasuk pandai di kelas. Nilai berhitung selalu memperoleh nilai terbaik. Seorang temannya sering diberi contekan dengan imbalan sekuntum bunga mawar. Dalam pandangan saya, beliau seorang ibu yang selalu kami rindukan, kasih sayangnya tiada berujung, mungkin semua ibu memang demikian. Meskipun beliau tidak berpendidikan tinggi, beliau sangat mendorong kami anak-anaknya untuk lanjut sekolah setinggi mungkin. Demikian juga ayahanda, beliau sering mengatakan, “Sekolahlah, sampai tidak ada sekolah lagi”. Saya tidak paham artinya waktu itu. Belakangan baru dapat saya pahami bahwa kita harus tetap menimba ilmu sepanjang hayat. Tholabulilmi minal mahdi ilal lahdi. Terima kasih Ma, Pa, jasa kalian tak kan pernah dapat kami balas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s