Beranda » Pendidikan » Perubahan dalam Kurikulum 2013

Perubahan dalam Kurikulum 2013

Pemberlakuan Kurikulum 2013 telah digulirkan pemerintah meskipun baru diberlakukan pada beberapa sekolah di setiap daerah. Dalam beberapa seminar tentang kurikulum yang pernah penulis ikuti, terlihat antusias guru untuk memahami kurikulum baru itu. Sampai saat ini, penulis belum menemukan wujud Kurikulum 2013 secara utuh, masih berupa informasi-informasi berupa makalah lepas dari para instruktur inti nasional dan buku-buku pegangan guru atau pegangan siswa dalam bentuk ebook.

Kurikulum 2013 mengandung empat perubahan dari delapan standar pendidikan nasional yang ditetapkan pemerintah. Meskipun sebenarnya, dalam pemahaman penulis, di antara standar-standar yang diakui sebagai perubahan oleh pemerintah tersebut telah tercantum dalam kurikulum-kurikulum sebelumnya. Tampaknya pemerintah memiliki alasan atas pengakuannya itu.

Empat standar yang diakui pemerintah sebagai perubahan dalam Kurikulum 2013 itu meliputi: 1) standar kompetensi lulusan, kompetensi lulusan ditetapkan lebih dahulu kemudian dijabarkan ke dalam mata pelajaran; 2) standar isi, adanya penyeimbangan antara soft skill dan hard skill sehingga isi pelajaran menyangkut pencapaian tiga ranah belajar (sikap, keterampilan dan pengetahuan); 3) standar proses, proses pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik, siswa tidak diberi tahu tetapi mencari tahu melalui proses meneliti; 4) standar penilaian, penilaian yang digunakan meliputi proses dan hasil sehingga sehingga guru memerlukan pengatahuan tentang penyusunan instrumen tes dan non tes. Penilaian cenderung menuntut guru menggunakan berbagai macam instrumen. Penilaian berupa fortofilio menjadi andalan.

Standar proses menjadi salah satu bidikan permerintah untuk diperbaharui mungkin disebabkan oleh stagnannya guru dalam melaksankan proses belajar mengajar di kelas selama ini. Dalam beberapa hasil penelitian, diperolah fakta bahwa masih banyak guru yang melakukan proses PBM di kelas menggunakan pendekatan/metode/teknik mengajar satu arah. Guru masih dominan di kelas.
Melalui pendekatan pembelajaran saintifik yang dicanangkan pemerintah dalam Kurikulum 2013, diharapkan proses pembelajaran di kelas dilakukan guru dengan mengaktfikan siswa secara oprimal. Murid mencari tahu atas ilmu yang pelajarinya sehingga ilmu pengetahuan itu akan berdampak pada diri siswa melalui proses pencarian yang dilakukannya sendiri. Konsep ini sebenarnya sudah sejak lama diamanahkan dalam kurikulum. Barangkali kita masih mengingat tentang Cara Belajar Siswa Aktif, metode discovery, inkuiri, pembelajaran berbaisis masalah, dll yang harus diterapkan dalam kurikulum-kurikulum sebelum kurikulum baru ini. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pada saat kurikulum 2013 itu akan diberlakukan mendapat kritikan pedas dari berbagai kalangan. Pengakuan pemerintah sebagai hal baru atau hal yang berubah, sebenarnya sudah sangat diketahui oleh para praktisi pendidikan, terutama guru.

Barangkali bukan saatnya lagi bagi kita untuk ikut-ikutan menggugat atau menolak penerapan kurikulum 2013 ini karena pada dasarnya pemerintah bertujuan baik, yaitu memperbaiki kualitas pendidikan. Sikap bijak yang dapat kita dilakukan yaitu dengan sungguh-sungguh memahami dan melaksanakan amanah kurikulum baru itu. Tak ada gading yang tak retak, semangat guru dan praktisi pendidikan lainnya menjadi ujung tombak untuk menuju keberhasilan dunia pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s