Beranda » Pendidikan » Meminta Maaf dan Memaafkan

Meminta Maaf dan Memaafkan

Menjelang Idul Fitri, banyak sms yang masuk ke hp kita yang berisi ucapan selamat atas tibanya Hari Raya berikut permintaan maaf dari pengirim. Kita pun membalasnya atau bahkan ikut mengirim sms serupa kepada para kenalan kita, berharap memperoleh jawaban atas permohonan maaf kita. Beragam kalimat yang kita peroleh, ada yang panjang dengan lika-liku kata-kata puitis, ada yang singkat, bahkan mungkin ada yang tidak kita pahami secara utuh karena kalimatnya berbahasa Arab atau berbahasa daerah.

Ekspresi setiap isi sms bisa jadi merupakan ekspresi yang mengirim atau mungkin juga saking banyaknya sms yang masuk tidak sempat terbalas atau asal balas. Haruskah kita membalas permintaan maaf itu? Manakah yang lebih penting meminta maaf atau membalas permintaan maaf?

Prof. Quraish Shihab dalam salah satu ceramah kajian Al Quran pernah mengemukakan bahwa tidak ada perintah dalam Al Quran untuk meminta maaf, yang ada justru perintah untuk memaafkan. Dalam takaran akal penulis yang awam, pernyataan itu dapat kita terjemahkan bahwa kita wajib membalas sms yang berisi permintaan maaf jika kita benar-benar memaafkan permintaan maaf si pengirim sms itu.

Terus bagaimana kalau ternyata sms kita tidak berbalas? Harusksah kita sakit hati atau tersinggung? Dalam era informasi sekarang ini, barangkali pulsa untuk mebalas sms yang banyaknya puluhan atau ratusan bukan merupakan masalah serius kecuali bagi kalangan tertentu yang memang benar-benar harus mengatur pengeluaran untuk membeli pulsa. Lebih bijak rasanya jika kita berbaik sangka saja, mungkin yang tidak membalas sms kita sangat kerepotan dalam membalas ratusan sms di hari Lebaran ini atau mungkin terlupakan, atau sms kita tidak/belum sampai karena provider sangat padat. Berbicara tentang memaafkan, Al Quran beberapa kali menyebut tentang itu, salah satunya berbunyi: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an, 7:199).

Salah satu penelitian yang dilakukan ilmuwan Amerika membuktikan bahwa orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain lebih sehat jasmani dan rohaninya. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniah namun juga jasmaniah.

Bagaimana proses memaafkan dapat menjadikan seseorang menjadi lebih sehat? Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan David R Hawkins, M.D.,P.hD terhadap kondisi energi manusia pada saat memaafkan berada pada level 350. Level ini merupakan salah satu dari beberapa level keadaan energi manusia pada saat mengalami perasaan tertentu, misalnya saat menginginkan sesuatu dengan sangat kuat, saat marah, saat pasrah, saat bangga, dan saat dipenuhi cinta kasih. Skala atau level-level ini merupakan instrumen penelitiannya tentang map consciousness. Skala ini bersifat logaritmik. Kondisi energi seseorang yang memaafkan lebih tinggi levelnya daripada perasaan optimis dan percaya/yakin serta afirmasi. Level yang lebih tinggi dari memaafkan adalah memahami (understanding) segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita ; respek/rasa hormat yang mendalam (mencintai); tenang dan hening serta bahagia yang luar biasa. Itulah bukti hasil penelitian manusia tentang keadaan emosi kita. Jauh sebelum peneliti Amerika melakukan riset, Al Quran sudah memberitahu kita untuk menjadi pemaaf. Kiranya hasil penelitian tersebut dapat mempertebal iman kita kepada Kitab-Nya. Surat Al Baqarah ayat ke-2 berbunyi: Daalikalkitaabu laa roiba fiihi  (Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya). Wallahu ‘alam bishshowab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s