Beranda » Pendidikan » “Tulislah Sesuatu yang Anda Kuasai”

“Tulislah Sesuatu yang Anda Kuasai”

“Tulislah  sesuatu  yang Anda kuasai”, seperti itulah kalimat yang pernah penulis baca pada sebuah artikel tentang belajar menulis. Benar sekali, bagaimana mungkin kita akan mampu mencurahkan ide ke dalam bentuk bahasa tulis jika kita tidak tahu apa yang hendak kita tulis. Namun, kadang kita sering disinggahi perasaan tidak ‘pede’ untuk menulis. Kepercayaan diri sebenarnya bisa tumbuh dan berkembang manakala kita sedikit demi sedikit mulai memberanikan diri menuliskan ide yang ada dalam pikiran ke dalam sebuah buku harian. Dewasa ini barangkali buku harian bukan lagi tempat yang biasa digunakan seseorang untuk menuangkan curahan hati karena telah banyak media sosial yang dapat dijadikan tempat untuk mencurahkan perasaan. Bahkan, sebuah curahan hati yang sangat kecil pun dapat langsung memperoleh respon dari para teman kita, baik di Facebook, Twitter maupun media sosial lainnya.

Pada tulisan terdahulu,  penulis menyampaikan bahwa menulis dapat dijadikan sebagai terapi, menuangkan uneg-uneg  melampiaskan perasaan, mungkin berupa  kesedihan atau kegembiraan yang sangat ampuh, tanpa menyakiti hati orang lain. Tentu saja jika curahan-curahan kecil kita tidak diperuntukkan untuk menyinggung perasaan orang lain. Perlu kita waspadai dalam menulis sesuatu dalam status BBM, Facebook,  Twitter atau media sosial lainnya karena kadang para pembaca tulisan kita tidak jarang ada yang salah tanggap pada isi tulisan  sehingga terjadilah dampak negatif dari sebuah tulisan dalam bentuk curhat.  Terlebih lagi jika ‘curhat’ kita berhubungan dengan seseorang yang menjadi teman facebook  atau follower kita. Kesalahpahaman sering terjadi dalam komunikasi tulis karena bahasa tulis tidak dapat mewakili ekpresi bahasa tubuh atau intonasi seperti yang biasa kita lakukan dalam bahasa lisan. Melalui pengamatan sederhana yang penulis lakukan, kesalahpahaman yang terjadi dalam sebuah media sosial kadang muncul karena kesalahpahaman dalam menafsirkan isi pesan. Perbedaan latar belakang pendidikan, pengalaman atau perbedaan-perbedaan lainnya sangat rentan memunculkan perbedaan dalam mempersepsi sebuah kata atau kalimat. Tidak jarang para anggota Facebook, Twitter atau media sosial lainnya saling adu argumen yang berujung pada kekurangharmonisan pertemanan atau bahkan mungkin hengkangnya salah satu di antara mereka. Sangat disayangkan jika silaturahim yang telah terbina dengan baik dalam waktu yang cukup lama menjadi rusak.

Munculnya berbagai jenis media sosial dewasa ini, dalam pemikiran penulis cukup memberikan ruang yang sangat besar untuk membangkitkan dan mengembangkan dunia literasi (baca: membaca dan menulis) masyarakat.  Kesadaran masyarakat sebuah bangsa dalam literasi menjadi salah satu indikator dari maju dan berkembangnya bangsa tersebut. Semakin banyak membaca maka akan semakin banyak ide yang akan muncul untuk ditulis. Di sanalah letak awal sebuah bangkitnya kesadaran untuk  memulai berbagi  pengetahuan. Berbagi pengetahuan barangkali akan menjadi  amal bagi kita. Apalagi jika informasi yang kita bagikan bermanfaat bagi orang banyak. Lagi-lagi penulis ingin menyampaikan, “Bukankah manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa dan yang bermanfaat bagi orang lain?”