Beranda » Pendidikan » Menjadi ‘Orangtuanya Manusia”

Menjadi ‘Orangtuanya Manusia”

Membaca buku-buku karya Munif Chatib tentang pendidikan yang ditulis secara berseri, dimulai dengan judul Sekolahnya Manusia, Gurunya Manusia dan Orangtuanya Manusia banyak memberikan pencerahan. Isinya  sarat makna yang layak direnungkan oleh para orang tua dan praktisi pendidikan. Wajah pendidikan di Indonesia tergambar jelas dalam tulisan Pak Munif.  Seyogyanya, tulisan beliau dapat memberi bekal kepada para orang tua dan praktisi pendidikan untuk berbenah diri dalam menata dunia pendidikan.

Kesan pertama membaca isi buku Sekolahnya Manusia langsung jatuh hati karena pemaparannya yang langsung menyentuh pada dunia pendidikan yang begitu nyata, jelas dan mengena, meskipun pada awalnya penulis bermaksud mencari buku yang berjudul Orangtuanya Manusia atas rekomendasi seorang teman. Membaca dua judul di awal nyaris melupakan tujuan pertama yaitu mencari judul yang ketiga. Barulah beberapa minggu kemudian kesampaian menemukan judul tersebut, Orangtuanya Manusia. Di awal halaman buku, penulis belum menemukan hal istimewa sebagaimana cerita teman tentang isi buku tersebut meskipun kekhasan beliau dalam bertutur lewat bahasa tulisnya membuat kita banyak mengangguk setuju sebagaimana isi pada tulisan dalam dua buku sebelumnya. Menginjak pada halaman sepertiga isi buku, penulis baru terhenyak atas paparan beliau yang menceritakan kehebatan orang tua yang memiliki anak hebat. Perasaan haru kita terbawa hanyut atas pengalaman beliau pada saat bertemu dengan sepasang orang tua yang memang betul-betul sangat hebat dalam pandangan beliau, begitu pun dalam pandangan penulis. Air mata haru tak dapat terbendung tatkala membaca baris demi baris paparannya. Berikut penulis cuplik salah satu kisah yang ditulis beliau:

Ketika sedang menuju Jakarta, perjalanan pulang dari sekolah binaan di Sukabumi, tiba-tiba telepon selualar saya berdering. Tenyata seorang sahabat semasa SMA menghubungi saya dan dia mengatakan tinggal di sebuah perumahan di Cibadak Sukabumi. Satu jam kemudian, saya sudah ada di depan rumahnya. Ketika pintu dibuka, saya melihat wajah sepasang suami isteri, dua sahabat yang berbeda sekali dengan bayangan saya sebelumnya. Wajahnya teduh, bersih, dan terpancar dua wibawa yang luar biasa. Juga sang isteri yang berjilbab rapi, dengan sopan sekali meminta saya masuk. Saya sampai tidak percaya perubahan yang terjadi. Mereka berdua menjadi sosok yang alim.

Lalu saya dikenalkan kepada anak lelaki pertamanya yang sekarang kelas 9 SMP dan sedang serius berkonsentrasi menghadapi ujian nasional. “Ayo ikut saya ke kamar, saya kenalkan pada anakku yang kedua. Namanya Akhmad,” ajak sang ayah. Ketika pintu kamar terbuka, betapa terkejutnya saya melihat Ahmad ada di kursi roda dengan tali di perutnya. Seketika saya langsung tahu bahwa Ahmad adalah anak penyandang cerebral palsy yang cukup berat, yaitu mengidap gangguan gerakan dan postur tubuh yang diakibatkan kerusakan di daerah otak sebagai pengendali fungsi motorik. Biasanya anak cerebral palsy mengalami ketidakaturan gerakan, kesulitan belajar,  gangguan bicara dan masalah pengihatan/pendengaran.

Napas saya tertahan sebentar melihat kondisi Ahmad, anak berumur 13 tahun yang tampan, yang sedang di kursi roda dengan gerakan tangan tidak teratur dan melihat kami bertiga masuk ke kamarnya. ‘Ahmad sayang, kenalkan ini Pak Munif, teman ayah waktu SMA.’ Saya genggam tangan Ahmad sebentar yang secepatnya dia tarik kembali. Pandangan matanya sekilas melihat saya lalu beralih ke ayah bundanya,  lalu tersenyum manis menghias wajahnya. Saya mendorong kursi rodanya keluar kamar. ‘Gimana cerita Ahmad ini?’tanya saya.

Lalu, sahabat saya yang luar biasa itu bercerita panjang lebar sejak Ahmad di dalam kandungan sampai dilahirkan dalam kondisi tersebut serta bagaimana perjuangan menyelamatkan nyawanya di rumah sakit. Setiap minggu, sampai usia lima tahun, mereka terus bolak-balik ke rumah sakit. Terkadang, malam hari kejang-kejang dan harus secepatnya dilarikan ke rumah sakit . Saya hanya bisa menundukkan wajah selama mendengar rentetan cerita perjuangan orang tua yang ingin menyelamatkan anak penyandang cerebral palsy agar tetap hidup di dunia ini. ‘Kami berdua ikhlas kok. Kami akan merawatnya sampai Allah mengambil nyawa kami.’ kata sang bunda. Sekali lagi, dengan jarak yang sangat dekat, saya pandangi wajah Ahmad. Dia tersenyum kepada saya. ‘Tapi saya meyakini bahwa setiap anak yang dilahirkan dalam kondisi apapun adalah bintang. Saya ingin tahu, apakah kalian berdua sudah menemukan bintang Ahmad?’ tanya saya serius. Ada senyuman di wajah dua sahabat saya ini. ‘Munif, kamu tahu kan, kami berdua dulu bagaimana? Kami dulu tidak dekat dengan Tuhan. Saya dapat pekerjaan yang bagus, tetap kami tidak pernah bersyukur. Ketika Ahmad lahir, sejak dia bayi sampai sekarang, tiba-tiba hidup kami berubah 180 derajat. Ahmad adalah guru kami agar kami mendekatkan diri kepada Allah. Kami berdua berkomunikasi dengan Ahmad lewat batin dan Ahmad mengisyaratkan kepada kami agar dekat kepada Allah. Betapa banyak kejadian di rumah ini, tempat kerja yang berhubungan dengan keinginan Ahmad. Munif, bagi kami Ahmad adalah guru kami. istriku memang tidak bisa kemana-mana, setiap detik harus menemani Ahmad, tetapi betapa bahagianya kami, setiap detik adalah waktu pembelajaran dengan bahasa batin yang luar biasa. Tidak semua orangtua dapat kesempatan seperti ini. Bagi kami, Ahmad adalah bintang. Kami sudah menemukan bintang Ahmad dan semoga bintang itu terus menyinari rumah ini dengan sinar keberkahan dari Allah Swt.’ Jujur saat itu saya menahan airmata saya. Dan, akhirnya meledak saat saya pamit pulang. Saya menangis dan bersyukur kepada Allah karena telah menemukan lagi orangtuanya manusia. Saya berdoa kepada Allah semoga Ahmad kelak akan membukakan pintu surga bagi kedua orangtuanya. Aamii.”

Saat membaca tulisan tersebut, tak kuasa penulis menahan air mata. Betapa hebat orang tua tersebut. Penulis jadi benar-benar malu atas kecengengan penulis selama ini.  Penulis belum dapat menjadi orang tua hebat seperti cerita di atas. Peristiwa yang penulis alami selama ini tidak ada  apa-apanya jika dibandingkan dengan peristiwa yang dialami ‘orangtuanya manusia’ versi Pak Munif. Astagfirulaahhaladziim.

Buku ‘Orangtuanya Manusia’ yang ditulis Pak Munif sangat menginspirasi untuk selalu mengambil hikmah atas segala sesuatu.  Catatan terakhir dari Pak Munif pada halaman itu :’ Akhirnya saya sangat meyakini bahwa setiap anak yang dilahirkan dari rahim ibunya, bagaimanapun kondisinya adalah  masterpiece, karya agung Tuhannya. Allah tidak akan pernah membuat produk-produk yang gagal karena Allah tidak pernah gagal. Hanya orangtualah yang diberi amanah terhadap karya agung ini yang harus bersyukur atas kesempatan untuk menjadi ‘Orangtuanya Manusia’. ”

Penulis pun bersyukur telah diberi kesempatan untuk membaca buku tersebut. Terima kasih penulis sampaikan kepada Pak Munif atas  ide-ide cemerlangnya, terimakasih juga  kepada Bu Evi Kareviati yang telah merekomendasikan buku itu untuk penulis baca. Jazakumullah khairon katsiro.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s