Beranda » Pendidikan » Belajar di Universitas Kehidupan

Belajar di Universitas Kehidupan

Sepulang mengikuti upacara kesadaran nasional tadi pagi di MQFM terdengar dendang talbiyah yang menjadi latar musik sebuah iklan biro perjalanan haji. Labbaik allohumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, hanya sebatas itu. Dendang merdu sang penyanyi sangat berefek besar ke dalam hati. Apalagi indera pendengaran penulis saat ini selalu sensitif jika mendengar alunan talbiyah seperti itu. Mungkin dipengaruhi oleh keadaan lingkungan yang sedang menyambut musim umroh. Beberapa teman sedang merencanakan bahkan ada yang sedang melaksanakan umroh di bulan ini. Tentu saja dengan spontan penulis pun mengikuti irama menyejukkan itu. Perjalanan pagi yang membutuhkan waktu kurang lebih satu jam pun dinikmati sambil mendawamkan talbiyah dengan irama tadi.

Saat mendendangkan irama itu muncul dalam pikiran tentang sosok Rosulullah. Hati ini kagum pada kebesaran hati Beliau untuk memaafkan orang yang telah melakukan kezaliman terhadap beliau, kisah seorang buta yang selalu disuapi Rosulullah meskipun dalam setiap suapan yang diberikan Beliau orang buta tersebut selalu menghina dan mengata-ngatai Rosulllah.  Dan kata kunci “ingat sifat Rosulullah” itulah yang selalu penulis jadikan mantera ajaib kepada ananda jika dia sedang berulah meggoda adiknya. Seketika si kakak pun berhenti menggoda adiknya yang sedang uring-uringan karena digoda atau dibuat ‘senewen’.  Pikiran lain pun muncul, mengapa Rosulullah seorang yang zuhud, seorang kekasih Allah masih saja mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari orang-orang kafir? Begitu hati ini berbisik. Hati pun menjawab bahwa itulah pembelajaran langsung yang dicontohkan Allah melalui Rosul-Nya.

Penulis pun teringat kembali pada judul sebuah buku yang dibaca minggu lalu yang berjudul Mendidik Karakter dengan Karakter karya Ida S.  Ya, karakter seseorang terbentuk atas kebiasaan,  dan kebiasaan akan menjadi takdir, begitulah kalimat yang ditulis salah satu tokoh karakter bernama Lickona dalam sebuah bukunya yang pernah penulis baca. Jangan-jangan sikap anak-anak kita, murid-murid kita pun yang konon sudah sangat meresahkan ini terbentuk atas kebiasaan yang kita sering pertontonkan di depan mereka? Astagfirullahal’adziim. Menyimak sifat-sifat Rosulullah yang sangat mengagumkan itu hendaknya selalu kita instal-kan kepada pikiran kita, pikiran anak-anak kita, murid-murid kita. Tidak ada kata terlambat untuk kembali membangun bangsa ini. Tentu saja harus dimulai dari diri kita sebagai orang tua, sebagai guru anak-anak kita di universitas kehidupan kita.

Sesampainya penulis di rumah setelah melakukan aktivitas harian, penulis pun berlabuh pada sebuah artikel melalui browsing sembarang, dan satu kalimat yang sangat melekat di hati terbaca, “Ketika hati kita terluka dengan sangat dalam maka pada saat itulah  kita sedang belajar untuk memaafkan.”  Indah sekali kalimat itu, bahkan banyak kalimat-kalimat serupa yang tidak kalahnya  menyejukkan hati. Namun, kapan kita mampu menerapkannya di dalam kehidupan kita? Insya Allah, mulai sekarang. Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s