Beranda » Pengalaman » Benarkah Pendidikan Karakter Gagal?

Benarkah Pendidikan Karakter Gagal?

Munculnya rencana pemberlakuan kurikulum 2013 mendapat reaksi dari berbagai kalangan, salah satunya kalangan guru. Konon, banyak guru yang merasa bingung tentang arah kurikulum baru itu. Kebingungan para guru terjawab oleh pernyataan Wapres Budiono yang mengungkapkan bahwa kurikulum yang akan datang memberi penekanan pada soft skill siswa, seperti penanaman nilai-nilai kehidupan dan sikap mulia, bertoleransi,  empatik, dll. Demikian tulis  salah seorang guru dalam sebuah media  hari ini.  Selanjutnya Pa Guru tersebut merefleksi atas kenyataan itu dengan sebuah pertanyaan tentang kemungkinan gagalnya penerapan pendiidkan karakter di sekolah selama ini dengan tiga indikasi yang beliau utarakan , yaitu perilaku tawuran siswa, pendidikan karakter yang bersifat teksbook, hapalan tanpa penerapan dalam aktivitas sehari-hari, dan pendiidkan karakter belum menjadi prioritas utama pembelajaran di sekolah.

Jika memang para guru di sekolah dalam menerapkan kurikulum berkarakter selama ini dengan cara hapalan atau hanya mengandalkan teksbook maka tentu saja langkah tersebut salah kaprah. Pendidikan karakter bukan untuk diajarkan, tetapi untuk ditanamkan melalui contoh-contoh konkret yang diterapkan dalam aktivitas keseharian.  Pernyataan tersebut sudah sangat jelas tertulis dalam petunjuk kurikulum berkarakter.  Selanjutnya, jika arah kurilukum baru itu seperti  yang diungkapkan Wapres Budiono dalam forum tersebut maka sebenarnya tidak jauh berbeda dengan isi kurikulum yang saat ini berlaku. Yang berbeda mungkin hanya kemasannya saja.  Apakah guru tidak akan  semakin bingung dengan sering berubahnya format-format perangkat pembelajaran yang harus disiapkan?

Selain itu, barangkali hal yang harus kita sadari bahwa pendidikan karakter tidak akan terlihat dalam jangka waktu yang relatif singkat. Pendidikan karakter memerlukan waktu yang relatif panjang untuk melihat hasilnya.  Sebagaimana yang diungkapkan Lickona, tokoh pendidikan karakter dunia bahwa tidak mudah melihat perkembangan karakter yang dimiliki siswa dalam jangka waktu yang singkat, pendidikan karakter memerlukan proses yang berkesinambungan, dalam jangka waktu yang tiada berbatas. Pendidikan karakter pun memerlukan evaluasi yang komprehensif, memerlukan format penilaian  beragam agar hasil yang dievaluasi cukup akurat. Bukan hal yang gampang jika seorang guru akan memberikan sebuah evaluasi terhadap nilai-nilai karkater yang terdapat dalam kurikulum dengan jumlah belasan jika terlebih dahulu tidak merancangnya dengan benar. Namun, bukan hal yang mustahil juga pendidikan karakter menuai hasil maksimal. Kegigihan, keuletan, kesabaran dan ketawakalan terhadap Yang Mahakuasa bisa kita jadikan alat untuk meraihnya. Apalagi jika semua elemen masayarakat saling mendukung dan bahu membahu guna meraih keberhasilan itu. Kalau ada kemauan pasti ada jalan, lamun keyeng tangtu pareng. Demikian bunyi peribahasa Sunda yang  sejak jaman dulu sudah dikenal nenek moyang. Semoga saja, usaha pemerintah dalam merevisi kurikulum ini membuahkan hasil dalam mewujudkan masyarakat yang memiliki karakter positif di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s