Beranda » Pengalaman » Pengalaman Berhaji

Pengalaman Berhaji

Terinspirasi oleh berita jemaah haji yang hari ini sedang melaksanakan puncak ibadah haji, wukuf  di Arafah,  penulis ingin berbagi pengalaman saat menunaikan ibadah haji tahun lalu. Hari itu, tanggal 29 Oktober 2011 bersama rombongan KBIH Annur Sumedang, kami bertolak menuju embarkasi haji Bekasi pada pukul 22.00 WIB dari gedung Pendopo Kabupaten Sumedang.  Sumedang, penulis pilih sebagai tempat pemberangkatan bukan maksud mengambil kuota penduduk asli kota tersebut karena kuota di tempat tinggal penulis sekarang sudah masuk antrian panjang tetapi karena alasan darurat yang kiranya dapat dimaafkan oleh masyarakat Kabupaten Sumedang yang antrian untuk pergi ibadah hajinya terlampaui oleh kehadiran penulis dan suami.   Ya, meskipun penulis keturunan asli orang Sumedang, dilahirkan dan dibesarkan di Kabupaten Sumedang, namun saat ini penulis berdomisili di Kabupaten Bandung Barat karena terkait dengan tempat mencari bekal hidup.  Alasan kami, mengapa memilih Sumedang, diawali dengan rencana awal kami tatkala ibunda dan ayahanda tercinta berencana menunaikan ibadah haji pada tahun 2009. Saat beliau berdua mendaftar dan masuk ke dalam kuota tahun 2011 di Kabupaten Sumedang, penulis dan suami belum berniat turut mendaftar tahun itu mengingat tabungan haji kami belum mencukupi. Selain itu,  masih ada agenda lain dalam keluarga kecil kami yang sedang memerlukan dana tidak sedikit. Saat itu, kami sedang merampungkan rumah tinggal. Rumah pertama kami, relatif kecil dengan tambahan tiga putera-puteri yang dititipkan-Nya kepada kami sehingga kami membutuhkan sedikitnya empat kamar tidur.  Ketiga putera-puteri kami saat itu mulai membutuhkan kamar sendiri sedangkan kamar yang tersedia hanya dua buah kamar tidur dengan ukuran 3×3.   Saat itu, kondisi rumah baru yang kami sedang bangun baru mencapai 50%.

Masih segar dalam ingatan, saat ibunda menyampaikan bahwa beliau berniat menunaikan ibadah haji dan mengajak kami turut serta untuk menemani karena usia beliau sudah lanjut. Ada perasaan sedih saat itu karena kondisi keuangan kami rasanya belum sampai untuk mendapatkan kuota mengingat rumah baru masih memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sedangkan, kondisi keuangan ibunda pun tentu tidak dapat menutupi biaya  kuota untuk kami karena keluarga kami merupakan keluarga sederhana. Ayahanda seorang pensiunan kepala Sekolah Dasar, sedangkan ibunda seorang ibu rumah tangga dengan memiliki sedikit tanah garapan . Momen tersebut, sering berkelebat dalam pikiran, antara keinginan untuk menemani kedua orang tua menunaikan ibadah haji dengan keinginan merampungkan pembangunan rumah baru kami.

Melalui diskusi kecil dengan suami dan memeriksa kekurangan dana dalam tabungan haji kami, akhirnya kami pun bersepakat untuk mendaftar tahun itu di Kota Sumedang.  Kekhawatiran kekurangan dana untuk merampungkan pembangunan rumah kami abaikan karena kami yakin, Allah pasti memberi rizki kepada setiap hamba yang dikehendaki-Nya. Apalagi, dana yang kami gunakan bertujuan untuk melaksanakan perintah-Nya.  Kami pun memperoleh porsi untuk tahun 2011 dengan selisih waktu mendaftar dengan kedua orang tua kami selama satu bulan. Menurut perkiraan petugas di kantor kementerian agama kabupaten, orang tua kami berada pada urutan atas, sedangkan kami sedikit di bawahnya sehingga memungkinkan bisa berangkat tahun 2010. Urusan tahun keberangkatan tidak kami permasalahkan karena kami beranggapan bahwa ibadah haji merupakan perjalanan suci sehingga tidak layak jika kami harus memaksakan diri ingin masuk kuota secepatnya dengan kasak-kusuk ke sana sini. Merupakan keuntungan juga bagi kami, karena kami masih memiliki waktu untuk menabung dana pelunasannya. Sekali mendayuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Itulah barangkali peribahasa  yang tepat bagi kami karena sambil merampungkan rumah, kami pun dapat menyisihkan dana untuk pelunasan ONH kami. Sungguh merupakan keberkahan, kami dilancarkan dalam merampungkan rumah sehingga  rumah selesai disertai  dapat memenuhi pembayaran dana untuk memperoleh porsi haji untuk tahun 2011.

Namun, manusia hanya bisa berencana, Allahlah yang menentukan rencana kita. Pertengahan 2009 ibunda sakit, beliau meninggalkan kami persis enam bulan  setelah kami mendaftar untuk menunaikan ibadah haji. Saat dalam perawatan di rumah sakit, dua keinginan beliau yang sempat disampaikannya bahwa beliau hanya menginginkan dapat pergi ke tanah suci dan melihat rumah kami rampung. Sayang, kedua hal itu tidak kesampaian. Namun, kami yakin bahwa Allah sudah membangunkan rumah yang lebih indah di surga untuk beliau.  Allahummag firlaha warhamha waafiha wafu anha.
Hal lain yang di luar dugaan, ayahanda kami mendapat panggilan untuk berangkat ke tanah suci pada tahun 2010 sehingga kami pun tidak jadi berangkat bersama. Satu catatan kecil atas keberangkatan ayanda pun merupakan pelajaran berharga bagi kami. Diawali dengan meninggalnya ibunda, kami berpikir untuk pindah tempat keberangkatan haji  ke tempat tinggal kami. Kami mengajak ayahanda agar berangkat ke tanah suci dari Kabupaten Bandung saja, namun beliau tidak berkenan sehingga ada sedikit perbedaan pendapat dan kekurangnyamanan pada saat kami menyampaikannya. Beliau berkeras ingin tetap berangkat dari kampung halamannya, demikian juga kami, kami berpikir lebih baik berangkat dari Bandung saja mengingat beliau seorang diri. Belum tuntas meneyelesaikan perbedaan keinginan itu, ternyata Allah membantu menyelesaikan permasalahan kami, yaitu dengan datangnya pemberitahuan dari KBIH bahwa ayahanda masuk ke kuota 2010 dan berangkat dua minggu yang akan datang. Berita tersebut penulis peroleh persis keesokan harinya setelah kami sedikit bersitegang. Allah Mahakuasa, Allah tidak memberi ruang kepada kami untuk bertengkar kembali dengan orang tua. Kami pun dapat mengantar ayahanda berangkat ke tanah suci dengan damai meskipun sebelumnya tidak kami duga akan terjadi seperti itu.  Rupanya Allah menyayangi kami agar kami sama-sama nyaman. Allah mengatur peristiwa itu dengan sangat indah. Allah telah melerai perbedaan pendapat di antara  kami.

Karena alasan sesuatu,  pada akhirnya, di tahun 2011 kami pun berangkat haji tetap dari Kabupaten Sumedang. Kami berangkat tanpa disertai ayah dan ibu. Sungguh kejadian yang di luar rencana kami sebelumnya.

Kembali menengok ke masa pada saat kami berngkat menuju embarkasi Bekasi pada tahun lalu, kami diantar sanak keluarga dan tetangga ke pendopo Kabupaten Sumedang meskipun pada saat itu para pengantar hanya sampai di luar halaman pendopo. Perasaan haru menyelimuti hati ini tatkala tatkala bis mulai melaju. Terlihat di jalanan para pengantar menyemut dengan lambaian tangan. Beberapa di antaranya terlihat berurai air mata. Demikian juga penulis, apalagi mengingat tiga putera-puteri yang ditinggalkan masih berusia muda. Si sulung baru menginjak kelas 2 SMP, disusul dua adik laki-lakinya yang baru menginjak kelas 6 dan kelas 2 Sekolah Dasar.

Beberapa menit kemudian, dering suara hand phone yang penulis pegang terdengar. Deg, hati ini tertegun saat terdengar beberapa suara tangisan di ujung telinga. Rupanya semenjak penulis keluar dari mobil, ketiga putera-puteri menangis histeris, begitu belakangan berita yang penulis terima.  Padahal ketiga putera-puteri penulis sudah sejak jauh-jauh hari diberi pengertian dan dikondisikan untuk ditinggalkan dalam waktu yang cukup lama. Ketiganya sudah memahami dan berjanji akan baik-baik saja serta bersedia diasuh si bibi dalam pengawasan nenek atau kakeknya.  Perasaan sedikit goyah, bahkan sempat kepikiran bahwa ini adalah hambatan bagi penulis untuk menjalankan ibadah haji. Teringat pesan seorang teman agar mendawamkan doa beberapa bulan menjelang keberangkatan agar dimudahkan dalam perjalanan karena menurut beliau perjalanan haji merupakan rahasia_Nya sehingga meskipun kita sudah terdaftar untuk berangkat pada waktu yang sudah ditetapkan, peluang gagal berangkat tetap ada. Berkat motivasi dari kakak, akhirnya penulis berhasil menenangkan hati sampai embarkasi Bekasi. Pukul 2.00 WIB dini hari kami sampai di embarkasi Bekasi. Rangkaian panjang dalam pengurusan administrasi kami lalui sampai menjelang subuh. Pada saat hendak keluar mesjid setelah melaksanakan soalat subuh penulis kebingungan mencari sepatu karena terdapat banyak sepatu dengan model dan warna yang sama. Penulis belum sempat memberi tanda. Diawali dari sanalah selanjutnya hari-hari penulis lalui dengan penuh kegesitan dan kehati-hatian. Banyaknya barang bawaan dan kelengkapan administrasi menuntut kita harus selalu gesit dan berhati-hati.

Perjalanan panjang, kami akhiri di Bandara King Abdul Azis pada subuh hari Senin tanggal 1 November 2011. Banyak perilaku jemaah mengekspresikan kebahagiaannya pada saat kaki kami menginjakkan kaki di Bandara Internasional itu. Beberapa di antaranya melakukan sujud syukur, bahkan ada juga yang biasa-biasa saja, polos, tanpa ekspresi.

Pada saat memasuki ruang tunggu menjelang pemeriksaan keimigrasian, banyak hal-hal lucu yang dapat penulis amati.  Para jemaah berbagi kabar ke tanah air. Seorang ibu yang sudah agak sepuh (jemaah kami 80% berusia di atas 55 tahun) setelah berlama-lama menelepon mengabarkan kepada keluarganya tidak mendapat sahutan sepatah katapun. Setelah diselidiki ternyata hand phone yang digunakannya tidak aktif. Sambil sedikit menggerutu, ibu tersebut tersipu malu dan mengucapkan terima kasih atas bantuan penulis. Bersambung……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s