Beranda » Pengalaman » Pengalaman Berhaji II

Pengalaman Berhaji II

Hari pertama di tanah suci Mekkah merupakan hari yang cukup melelahkan. Sesampainya di Bandara King Abdul Aziz Jeddah pada subuh Senin 1 November 2011 perasaan belum sepenuhnya tenang. Berdasarkan cerita para teman, saudara, yang telah melakukan badah haji sebelumnya banyak cerita yang membuat hati ini cemas, takut dan bingung. Kejadian biasa yang mungkin jika dialami bukan pada saat berhaji tidak merupakan hal yang luar biasa. Kejadian-kejadian yang konon mencerminkan perilaku di tanah air sering dialami para jemah haji belum tentu kebenarannya. Wallahu alam. Namun, meskipun demikian, kadang kita bisa mengamati hal-hal yang memang di luar nalar. Jika diamati dengan seksama, mungkin di tanah air pun banyak kejadian yang sebenarnya hal itu merupakan akibat dari polah kita, namun karena analisis dan perasaan kita kurang peka maka banyak kejadian di tanah air yang luput dari analisis kritis kita. Contoh yang bisa diamati, misalnya, saat salah seorang anggota regu kami mengatakan bahwa makanan yang diperoleh kurang enak, ditanggapi oleh anggota regu yang lain bahwa tidak layak mengucapkan kata tersebut. Perkataan, perbuatan benar-benar harus hati-hati. Betapa bagusnya jika semua itu kita jaga semenjak dari tanah air atau ketika kita sudah pulang ke tanah air.
Beberapa pengalaman yang sempat penulis alami dan mungkin bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang agak aneh misalnya tatkala ada salah seorang anggota dari regu kami yang setiap hari bertanya kepada penulis dengan pertanyaan yang sama. Beliau seorang ibu yang berusia di atas 60 tahun. Perilakunya benar-benar sering membuat kami merasa jengkel. Bayangkan, setiap hari, mungkin lebih dari sepuluh kali bertanya tentang asal daerah penulis. Di hari pertama penulis belum merasa aneh dengan beberapa pertanyaannya. Teman sekamar kelihatannya sudah mulai terganggu dengan pertanyaan itu. Hari ketiga penulis baru merasa aneh, kok nanya terus hal yang sama? Mengapa? Teringat pada cerita bahwa perbuatan /sikap tidak baik kita saat di tanah air sering mendapat balasan pada saat berhaji. Penulis menyadari bahwa ketika di tanah air penulis paling tidak senang jika ditanya dengan pertanyaan yang sama oleh anggota keluarga secara berulang. Selama kurang lebih 20 hari tinggal di maktab, setiap hari penulis selalu ditanya oleh si ibu itu dengan pertanyaan yang sama dengan intensitas yang berbeda-beda. Sambil mengucap istigfar, penulis selalu menjawab pertanyaan si ibu dengan senang hati, tak sedikit pun penulis merasa bosan, bahkan sering disertai dengan bercanda. Pertanyaan yang beliau ucapkan itu berbunyi: “Ari Nyai teh kawit ti mana? (Dari mana asal Nyai?)” Atau “Ti mana geuning Nyai teh?” “Urang mana geuning Nyai teh?” “Punten nya hilap deui geuning, ari Nyai kawit ti mana?” Teman sekamar penulis kadang sering menimpali. “Masih belum hapal Ma?” Beliau menjawab, “Hilap deui Nyai, maklum Ema teh sudah tua, da panasaran wae hayang nanya/ Lupa lagi Nyai, maklum Ema sudah tua, selalu penasaran ingin bertanya,” begitu dia bilang. Entah pada hari ke berapa dia berhenti bertanya, yang jelas setelah kami berangkat ke Madinah, ibu tersebut tidak pernah lagi bertanya tentang asal daerah penulis.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s